Langsung ke konten utama

Di Depan Tembok Itu

​Terbuka kembali kotak pandora saat semilir angin menyapa. Ruang-ruang gelap segera saja menyala. Memutar kembali segala kenang tempat kita memintal asa. Di sudut sebuah kota yang ramai dengan gegap gempita, kita pernah berbagi cerita. Bersedia membunuh waktu dengan sebuah tunggu karena temu akan menyapa. Kejutan tak terduga yang kita usahakan akhirnya tiba. Murungku berganti senyum yang tak henti terpancar kala sosokmu ada di sana. Hadir menerbangkan kupu-kupu di dada yang berterbangan kemana-mana. Membangkitkan desir bahagia yang menghilang dari relung hati sepanjang hari. Aku senang dan tidak pernah menyangka.


“Kamu, bagaimana kabarmu hari ini?”, sapamu di kalimat pertama.


Mulutku tak mampu berucap. Kata apapun di pikiran musnah. Ingin kupeluk dirimu saat itu juga. Di bawah pohon rindang yang meneduhkan kita, aku terpana.


Kamu menatapku yang hanya tersenyum dengan bingung.


“Gak suka ya aku ke sini?”, tanyamu lagi.


“Bukan, hanya tidak menyangka.”, sahutku masih dengan mulut menganga dan senyum mengembang. Mataku yang sayu kembali berbinar. Sungguh, aku benar-benar ingin memelukmu sekarang. Namun jalan di depan kita terlalu ramai dengan lalu lalang orang. Maka kuurungkan itu karena tidak mau jadi bulan-bulanan orang-orang kantor yang sejak tadi melirik-lirik kita dengan sudut mata mereka.


“Aku cuma mau kasih ini. Semoga hari ini kamu happy lagi.”, katanya sambil menyodorkan sebuah bungkusan plastik.


“Apa ini?”, tanyaku.


“Buka aja.”, katamu.


Aku membuka bungkusan itu dan kudapati semua makanan favoritku ada di sana. Sekali lagi, aku terpana. Tak pernah kubayangkan aku merasakan ini. Kukira, ini hanya ada dalam novel-novel yang biasa kubaca. Tapi kamu, sekali lagi berlaku seperti karakter utama yang peka dan penuh usaha.


“Terima kasih.”, kataku singkat. Tapi sungguh, aku ingin mengucapkan banyak. Hadiah ini hanya bonus untukku. Lebih dari itu, hadirmu adalah alasan yang sesungguh atas senyumku yang merekah sore itu. Terlampau ingin kubekukan waktu, maka kutanya dirimu bersediakah menungguku pulang sebetar lagi. Meski dalam hati, aku ingin menahanmu secara brutal. Tidak akan kubiarkan kau pergi begitu saja. Sudah kusiapkan segala kemungkinan cara dan alasan. Lalu ketika kamu menjawab bersedia dan akan mencari tempat menunggu, hatiku berteriak girang. Aku ingin melompat-lompat dan menari-nari riang. Maka kujanjikan padamu aku akan pulang satu jam lagi. Tidak, aku bahkan mempercepatnya 30 menit agar waktu kita bersama bisa sedikit lebih lama.


Setelah 30 menit itu berlalu dengan cepat, waktu menjadi milik kita. Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin pulang kerja terlalu cepat. Aku ingin bersamamu lama-lama. Menikmati jalan pulang dengan tenang sambil melipir mencari tempat makan, bercerita banyak hal, lalu diantar pulang. Hari itu, after work date yang selama ini begitu aku dambakan terwujud juga dan kamu adalah orang pertama yang membersamaiku merayakannya.


***

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara