Langsung ke konten utama

Permainan Peran

Beberapa orang mungkin memang datang untuk memainkan peran tertentu. Ada yang datang untuk membimbing, ada yang datang untuk menghakimi, ada yang datang untuk mengajari, ada yang datang untuk mengacak-acak situasi, ada yang datang untuk sekadar duduk bersama berdua dengan kesibukan masing-masing. Lalu aku mencoba untuk meromantisasi kedatangan dan kepergian yang ada dalam hidup ku semata-mata agar hidup ini punya secercah energi dan hal baik untuk ditunggu, untuk dinanti, untuk dinikmati karena jujur saja, aku sedang bosan dengan hidupku.

Apakah hidupku semonoton itu untuk dijalani? Tidak juga. Aku punya kegiatan yang ku nanti dan orang yang ingin kutemui setiap bulan. Aku juga punya banyak daftar hal-hal yang ingin kulakukan serta telah merencanakan beberapanya, tapi pada beberapa kali, aku merasa bosan. Mungkinkah karena kulakukan sendiri? Mungkinkah karena tidak ada teman berbagi? Kadang aku merasa banyak sekali kisah yang ingin kubagi. Kadang juga aku merasa ingin sekali mendengarkan kisah baru yang menarik hati. Permainan peran sebagai yang berkisah dan yang mendengarkan kisah memang menyenangkan sekali. Mungkin karena sudah lama tidak "berbagi", hari ini jadi agak sedikit menyenangkan.

Ternyata duduk berdua bersama orang asing berjam-jam dengan kesibukan masing-masing bisa membuat nyaman. Ternyata mendengarkan keluhan-keluhan dan cerita seorang penyedia jasa, bisa membuatku betah berlama-lama. Ada waktu-waktu ketika kami bersama mendendangkan lagu yang diputar di tempat itu. Aku tidak keberatan mendengar senandung-senandung kecil itu sambil asik berkutat dengan gadgetku atau membalik lembar-lembar buku yang kubaca. Entah mereka menyadarinya juga atau tidak, tapi kebersamaan dalam keasingan ini memenuhi kekosongan dan kebosanan yang terasa.

Aku tidak menyesali permainan peran yang kupilih hari ini dengan mengizinkan berbagi ruang pada orang-orang asing yang singgah di hidupku. Aku bersyukur dengan kehadiran mereka. Aku harap mereka selalu dipenuhi keberanian untuk memberikan orang-orang sepertiku, yang sedang bosan dengan kehidupan, turut serta dalam permainan mereka.

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Kepercayaan yang Telah Ternoda

Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan.  Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara