Ada banyak cerita dari seberang jalan. Satu yang selalu tak pernah gagal adalah tentang cinta. Bukan sebuah yang sempurna, tapi hangatnya terasa nyata. Bukan sebuah yang utuh, tapi saling mengisi lubang. Bukan hanya yang tampak, tapi juga yang mungkin terpendam. Entah berapa banyak yang telah dilalui, tapi jelas bukan hal mudah. Kebanggaan memiliki sebuah cinta yang seperti itu terpancar jelas dari balik matanya yang indah. Berbinar memancarkan cahaya yang mempesona. Aku merasa penuh. Melihatnya saja membuat ku ikut berbahagia. Bersuka cita atas sebuah cinta yang turut membuat ku tersenyum. Bahkan jika lebih dari 77 kali, mungkin aku akan tetap mengiyakan dan ku rasa salah satu dari 77 pertanyaan itu adalah tentang ini. Tentang ditampakkannya pada ku sebuah cinta yang murni. Tulus dari lubuk hati. Memeluk dan mengayomi. Berjuang bersama dan saling memberi kasih yang tiada henti. Ingin ku bilang padanya terima kasih atas senyum yang begitu menyentuh hati, mata yang berseri, dan sosok yang menginspirasi.
Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.