Langsung ke konten utama

Cinta yang Membuat Ku Menjadi Diri Ku Saat Ini

Dua tahun lalu, aku berusaha pergi dari hidup yang saat itu ku jalani. Tidak ada hal yang menyenangkan saat itu. Tidak ada kebahagiaan yang aku alami. Aku merasa berjalan di tempat. Kalah oleh keadaan. Marah dengan tanggung jawab yang dilimpahkan pada ku. Kasihan pada diri ku yang tak lagi punya sesuatu. Bahkan usaha ku seolah mengkhianati. Kerja keras, dedikasi, ketulusan, sampai jati diri ku sendiri sirna. Tak ada lagi percikan yang membuat hidup masih pantas untuk dijalani. 

Ketika tak ada lagi alasan yang tersisa, aku memberanikan diri memilih diri ku sendiri. Diri ku yang saat itu berjalan tanpa tahu arah mana yang harus dituju. Diri ku yang saat itu tak tahu dari mana harus memulai. Diri ku yang saat itu sinarnya redup. Aku memilihnya dan menghadiahkannya kado terindah yang bisa ia dapatkan. Hal yang selama ini selalu ia tahan. Jika waktu itu aku tidak memilih diri ku. Jika waktu itu aku tidak memberanikan diri ku. Jika waktu itu aku tidak pergi ke tempat itu. Kisah ini akan berbeda jauh sekali. Aku mungkin tidak akan seperti aku yang saat ini. Selain itu, aku juga tidak akan bertemu dengan cinta yang membuat ku menjadi diri ku saat ini. Seseorang yang perannya sangat berarti. 

Jika kau tanya bagaimana perasaan ku padanya, maka akan ku jawab tak menentu. Aku tidak selalu menyukainya dengan menggebu-gebu. Terkadang aku bahkan lupa dengan perasaan itu. Tapi aku mengingatnya setiap waktu. Aku merapal namanya berkali-kali setiap hari. Ketika aku bahagia, aku akan mengatakan aku menyukainya. Saat aku sedih, aku juga mengatakan aku menyukainya. Aku menyukainya tapi aku tetap memilih diri ku sendiri. Aku menyukainya tapi aku tak akan hilang kendali. Aku menyukainya dan aku tak akan memaksakan diri. Aku menyukainya dan menceritakan tentangnya pada setiap orang yang ku temui, juga pada Tuhan ku yang memperkenankan kami bertemu. Aku menyukainya seiring berjalannya waktu, bukan ketika pertama kali bertemu. Aku makin menyukainya saat dia mulai membuka diri pada ku. Begitu mengalir. Begitu spontan. Aku menyukainya karena dia membuat ku menemukan kembali makna hidup. Ia membuat ku mendapatkan lagi spark ku yang hilang. Ia membuat ku menulis hal-hal menyenangkan. Hal terpenting, tulisan ku tentangnya dibaca orang-orang. Aku senang. 

Cinta yang membuat ku menjadi diri ku saat ini mengetahui keberadaan ku. Ia memakai barang pemberian ku dan berterima kasih secara langsung pada ku di depan orang lain. Ia mengingatkan ku banyak hal. Ia membuat ku merasa value diri ku selalu meningkatkan. Aku belajar. Aku menyadari. Aku memperhatikan. Aku memahami. Aku ingin punya sesuatu. Semua itu ku lakukan bukan untuknya, tapi karenanya. Karenanya aku tidak lelah berusaha. Karenanya aku ingin melihat dunia. Karenanya aku bertumbuh. Jadi ketika peran kami usai nanti, aku tetap akan selalu mengingatnya sebagai satu kebaikan yang berharga dan tak terganti di hidup yang aku jalani. Semoga ia menyadari bahwa dirinya saat berarti. 

Popular Post

Tanda

Baru saja aku mendendangkan lagu Tanda dari Yura Yunita. Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah ku mohon dulu? Sebuah pinta yang rasanya selalu, berkali-kali, berulang-ulang, dimohonkan setiap hamba kepada-Nya, termasuk aku. Entah berapa juta kali aku selalu memohon, meminta didekatkan dengan apa-apa yang ku yakini baik untukku. Entah berapa juta kali aku memaksa untuk diperbolehkan mencoba merasakan hal yang ingin ku rasakan. Pada akhirnya semua menunjukkan tanda yang seringnya ku abaikan. Jadi kali ini aku tidak lagi berani meminta sebuah tanda. Aku hanya berharap diberi kesempatan-kesempatan acak. Tak mengharapkan lebih, juga tak akan memaksa. Aku berserah pada Yang Maha Memiliki. Jika memang ini benar untukku, aku meminta kemudahan untuk apapun yang akan terjadi di masa depan. Jika memang ini bukan untukku, aku meminta kelapangan menerima sebuah keputusan.

Untuk Aku

Tinta belum mengering Kertas masih tersusun rapi Kepala mu tidak pernah hening Jadi kau tak tahu bagaimana kosong itu akan terisi Mungkin kau hanya lupa atau terlampau sibuk menulis tentang orang-orang  juga kisah-kisah yang menoreh luka serta sesekali tentang cinta yang tak kau sangka terbit setelah petang Untuk sebuah aku yang merasa hari-hari begitu hambar ruang di dada begitu hampa kapan bunga mekar? Tak bosan menanti musim semi tiba Kapan lagi kau akan bercerita? Bukan tentang segala yang kau lihat atau rasa Tapi tentang mu yang merajut asa Api yang masih menyala Degup yang masih berdetak Langkah yang mantap Mari kembali menggores pena Kata-kata mengudara bersama cita yang membara Harap yang merekah indah Lalu kau berwarna merah Kembali pada hakikat mu sebagai manusia Seorang yang gemar bermain aksara

Cinta yang Paling Kusayang

Telah kupetakan nama kita di tempat-tempat yang kusambangi. Kubisikan pada bebungaan. Kuminta aminkan ke dedaunan. Kutitipkan pada angin agar ia membawa doaku jauh ke tempat nama kita terukir entah di sudut langit yang mana. Di setiap helaan nafas ketika berkelana, kudoakan kita selalu. Aku meminta temu. Aku meminta kita segera bersatu.  Tak lupa kuselipkan pada kata di lembar-lembar buku yang kubaca. Kulafalkan dengan lantang tiap malam bersama segenap harap. Setangkup keyakinan yang ada seringnya juga tak tentu. Kadang menggebu, kadang layu namun entah kenapa rasanya aku tidak ingin menyerah untuk kita. Tentang kita akan selalu kuupayakan meski aku juga masih meraba-raba.  Seseorang yang paling kusayang telah menjelma sebuah hangat yang sampai kini masih menetap di lubuk hati terdalam. Sejak bulan 1 di tahun kedua kita bertemu, hatiku terpaku padamu yang begitu teduh, begitu penuh dengan apa-apa yang selama ini ada dalam khayalanku. Aku yang datang dengan begitu pemalu lalu ...