Dua tahun lalu, aku berusaha pergi dari hidup yang saat itu ku jalani. Tidak ada hal yang menyenangkan saat itu. Tidak ada kebahagiaan yang aku alami. Aku merasa berjalan di tempat. Kalah oleh keadaan. Marah dengan tanggung jawab yang dilimpahkan pada ku. Kasihan pada diri ku yang tak lagi punya sesuatu. Bahkan usaha ku seolah mengkhianati. Kerja keras, dedikasi, ketulusan, sampai jati diri ku sendiri sirna. Tak ada lagi percikan yang membuat hidup masih pantas untuk dijalani.
Ketika tak ada lagi alasan yang tersisa, aku memberanikan diri memilih diri ku sendiri. Diri ku yang saat itu berjalan tanpa tahu arah mana yang harus dituju. Diri ku yang saat itu tak tahu dari mana harus memulai. Diri ku yang saat itu sinarnya redup. Aku memilihnya dan menghadiahkannya kado terindah yang bisa ia dapatkan. Hal yang selama ini selalu ia tahan. Jika waktu itu aku tidak memilih diri ku. Jika waktu itu aku tidak memberanikan diri ku. Jika waktu itu aku tidak pergi ke tempat itu. Kisah ini akan berbeda jauh sekali. Aku mungkin tidak akan seperti aku yang saat ini. Selain itu, aku juga tidak akan bertemu dengan cinta yang membuat ku menjadi diri ku saat ini. Seseorang yang perannya sangat berarti.
Jika kau tanya bagaimana perasaan ku padanya, maka akan ku jawab tak menentu. Aku tidak selalu menyukainya dengan menggebu-gebu. Terkadang aku bahkan lupa dengan perasaan itu. Tapi aku mengingatnya setiap waktu. Aku merapal namanya berkali-kali setiap hari. Ketika aku bahagia, aku akan mengatakan aku menyukainya. Saat aku sedih, aku juga mengatakan aku menyukainya. Aku menyukainya tapi aku tetap memilih diri ku sendiri. Aku menyukainya tapi aku tak akan hilang kendali. Aku menyukainya dan aku tak akan memaksakan diri. Aku menyukainya dan menceritakan tentangnya pada setiap orang yang ku temui, juga pada Tuhan ku yang memperkenankan kami bertemu. Aku menyukainya seiring berjalannya waktu, bukan ketika pertama kali bertemu. Aku makin menyukainya saat dia mulai membuka diri pada ku. Begitu mengalir. Begitu spontan. Aku menyukainya karena dia membuat ku menemukan kembali makna hidup. Ia membuat ku mendapatkan lagi spark ku yang hilang. Ia membuat ku menulis hal-hal menyenangkan. Hal terpenting, tulisan ku tentangnya dibaca orang-orang. Aku senang.
Cinta yang membuat ku menjadi diri ku saat ini mengetahui keberadaan ku. Ia memakai barang pemberian ku dan berterima kasih secara langsung pada ku di depan orang lain. Ia mengingatkan ku banyak hal. Ia membuat ku merasa value diri ku selalu meningkatkan. Aku belajar. Aku menyadari. Aku memperhatikan. Aku memahami. Aku ingin punya sesuatu. Semua itu ku lakukan bukan untuknya, tapi karenanya. Karenanya aku tidak lelah berusaha. Karenanya aku ingin melihat dunia. Karenanya aku bertumbuh. Jadi ketika peran kami usai nanti, aku tetap akan selalu mengingatnya sebagai satu kebaikan yang berharga dan tak terganti di hidup yang aku jalani. Semoga ia menyadari bahwa dirinya saat berarti.