Mereka mungkin menganggap kepercayaan hanya remeh temeh belaka. Seolah memberikan kepercayaan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka mungkin menganggap kepercayaan adalah barang yang di obral murah. Seolah ia adalah suatu yang tak pernah habis sebanyak atau sesering apapun kamu gunakan. Tapi tidak bagiku yang menganggap itu sebagai sebuah kesucian. Tidak akan pernah lagi sama, ketika rusak secuil pun pada satu bagian. Tidak akan pernah lagi bisa dibersihkan, meski hanya setitik noda. Tidak akan pernah lagi sama, setelah dihancurkan, sekeras apapun kamu mencoba. Kepercayaan yang telah ternoda, tidak lagi punya kesempatan kedua. Aku memang bukan seorang yang murah hati untuk memberikan maaf. Aku bukan seorang pemaaf. Terserah kalian ingin mengatakan aku sebagai pendendam atau orang jahat yang tidak punya belas kasihan. Bagi mereka, mungkin itu hanya masa lalu yang bisa dengan mudah dilupakan. Bagiku, itu tikaman dalam yang bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Aku membenci cac...
Aku menanam benih di seberang jalan tanpa tahu bagaimana ia akan tumbuh. Mekar sempurna di ujung waktu, ia adalah bunga kuning yang cemerlang. Terang memberi tenang pada tiap insan yang butuh uluran tangan. Termasuk aku. Kepercayaan ku padanya melebihi diri ku sendiri. Aku senang tiap kali bertemu. Aku menaruh segenap rasa berani yang ku punya. Bertaruh dengan apapun yang ku bisa. Aku ingin menciptakan sebuah ketidaksengajaan yang ku sengaja meski hingga kini belum terjadi. Bisakah nanti? Kepada cinta yang membuat ku menjadi berani, di dada ku bergolak perasaan yang tak ku mengerti. Ingin ku memiliki mu sepenuhnya, menyalurkan segenap cinta dan berceloteh riang ketika bersama. Ingin ku mendengar suara mu yang merdu dan penuh perhatian setiap waktu. Ingin ku bertumbuh berdua dengan mu. Ingin ku lebih berani mengutarakan perasaan ku. Meski ingin-ingin itu menyerbu, aku tak lantas mengikuti kata hati. Tidak kali ini karena aku ingin membuat ruang aman untuk mu. Perlahan aku akan memb...