Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

Bising (3)

Kepalaku kembali dipenuhi kicauan dari segala penjuru. Satu bagian sibuk membenci, mengumpat, dan mengutuk dendam yang entah kapan bisa sirna dari hidupku. Bagian lain sibuk mengutarakan ide-ide yang harus segera kulaksanakan. Satu sisi bertanya-tanya haruskah aku sudahi membenci orang-orang. Sisi lainnya berkata aku perlu pembuktian. Lalu, dari sebelah mana lagi yang aku juga tidak ketahui berujar, "apakah semua itu ide yang harus segera kulakukan itu adalah sebuah bentuk pembuktian agar aku puas dan dendam ini dapat terbalas?".

Bermain dengan Gunting

Satu-satunya benda tajam yang aku rasa cukup aman adalah gunting. Ketika aku tidak kuat dan tidak bisa lagi menahan emosi, akan ku ambil dia. Jangan salah sangka dulu, aku tidak seperti itu. Aku terlalu takut melihat darah hingga ku putuskan untuk mengarahkannya pada rambutku. Memotong dengan rusuh hingga potongan rambutnya berhamburan kemana-mana. Mereka mengotori tanganku, kakiku, wajahku, leherku, bajuku, celanaku, lantai kamarku, dan kasurku. Tapi aku malah merasa seperti semua yang menghantam kepala dan hatiku lenyap. Aku senang bermain dengan gunting di tangan yang memangkas rambutku. Sekarang kepalaku terasa lebih ringan dan dingin.

Skenario Sebelum Tidur

Di tengah kota yang sedikit asri meski ramai dengan huru hara, aku menyusur jalan panjang yang bermuara pada sebuah tempat asing yang tidak benar-benar asing. Setiap sudut di tempat itu dipenuhi lalu lalang orang. Setiap sisi di tempat itu memanggil-manggil aku untuk mendekat dengan kerlap kerlip pesona yang menggoda seakan berteriak, "Ayo, ke sini!". Aku menyisir pandang yang kian lama mengabur seiring dengan sahutan riuh yang juga menyatu sampai tiba di titik. Langkahku mengayun ringan menggapai punggung seseorang yang langsung menoleh dengan senyum lebar menenangkan. Tatapannya seolah-olah mengatakan, " kamu aman sekarang." dan hangatnya menggetarkan kawanan kupu-kupu dalam perutku yang seketika membumbung tinggi. Terbang dengan sayap cantiknya ke langit biru di kejauhan. Aku mengambil tangan yang menengadah dengan meyakinkan sambil tersenyum riang dan girang. Kami berjalan beriringan menuju seberkas cahaya yang bersinar paling terang sambil membayang dan meranca...

Bising (2)

Malam, pukul dua. Lagi-lagi kepala ku penuh dan bising. Gemuruh dari dalam inginnya meneteskan bulir-bulir air mata agar kekeringan yang entah di bagian mana tubuhku basah dan terselamatkan. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih dan tenang. Beberapa orang juga merongrong tak karuan. Kepala ku penuh dan aku sungguh ingin meledak. Aku tidak bisa mengabarkan berita kurang menyenangkan sebagai alasan. Meski benar begitu. Tapi, itu akan membuat mereka berpikir aku tidak profesional. Meski saat ini aku sungguh tidak bisa menahan semua. Aku hanya ingin mereka diam saja, sebentar. Beri aku sedikit ruang. Ini terlalu menyesakkan. Diberondong pertanyaan sangat amat memuakkan . Haruskah aku menahan diri sekali lagi? Atau kukucurkan saja pada semua keran dengan wadah di bawahnya yang terus menganga. Aku benar-benar tidak tahan.  Ingin ku biarkan diriku menghilangkan. Tapi aku benar-benar tidak kuat. Meski aku ingin menghilang dalam diam. Tapi aku juga ingin mereka tahu bahwa aku akan menghilan...

22:45

Semakin semua terasa lebih berat dan menyesakkan, semakin aku menjauhkan diri dari kerumunan. Semakin semua terasa lebih berat dan menyesakkan, dirimu menjadi satu-satunya tempat yang terlihat paling terang. Tempat ku ingin berlari dan memeluk dengan erat. Tempat ingin ku luapkan semua. Tapi tidak bisa.

Angin Puyuh

Pada desir yang pernah kutunggu dan kunikmati tiap helanya, aku membisik harap dan memintanya untuk menerbangkan itu ke angkasa. Biar ia menyatu dengan awan-awan yang berkumpul berarak beringinan. Biar ia bersama dengan harap-harap lain yang beterbangan. Tidak sendiri dalam kesepian. Pada desir yang lama-lama menjelma angin puyuh tiba-tiba. Mereka berlindung di balik papan kayu tipis yang sebentar lagi terangkat. Aku mungkin aman, tapi bagaimana bisa hatiku tega membiarkan. Dengan segenap apa yang aku punya, aku berlari memeluk duri tanpa sadar aku tersakiti. Berdarah-darah di sini. Tapi aku sudah terjebak. Aku tidak bisa menangis. Aku tidak bisa pergi. Pada angin puyuh yang telah memporak-porandakan jiwaku. Aku tidak tahan lagi.

Awal Juli

Ini awal yang kuharapkan selalu terjadi. Tenang tanpa huru hara, kelimpungan, dan grasak grusuk mencari sesuatu. Tanpa rasa yang membuat khawatir waktu itu. Tanpa sesal dan sesak. Tanpa kata, "Aku tidak ingin disitu". Ini awal yang kuharap terjadi sejak dulu. Ini awalku yang baru.

Bising

Kepala ku semakin bising dan ramai seiring melarutnya malam meski mata sudah terkantuk-kantuk. Sekejap ia memejam, riuh bersahutan dari setiap sudut. Menahan hasrat ingin terlelap dengan berbagai imaji yang berlomba-lomba menunjukkan performa terbaik. "Tidak akan ada yang kupilih malam ini.", kataku untuk meredam segala teriakan yang bergema membentur dinding-dinding sel otak. Mereka tidak lantas padam dan diam. Sejenak mereka membisu untuk kemudian menyalak lebih keras. "Dasar tidak tahu waktu.", keluhku.