Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

3

Pelampiasannya terbaik dari tidak bisa tertidur adalah dengan mengerjakan sesuatu. Tapi, pada akhirnya itu juga memicu banyak pertanyaan yang sudah sangat malas untukku jawab. Aku tidak pernah memilih untuk tidak bisa tertidur. Harus sebesar apa lelahnya hanya untuk bisa tertidur dengan tenang?

Akhir Juni

Juni sudah akan berakhir, tapi yang aku rencanakan belum bisa terjadi. Aku malah jatuh sakit. 2 hari berturut-turut sebelumnya, aku memimpikanmu. Juni sudah akan berakhir, tapi aku belum siap memulai bulan yang baru. Musim akan semakin memanas tapi bukannya semangatku semakin membara, malah apiku semakin meredup. Sebentar lagi umurku pun bertambah. Tapi, tidak ada satu pun pencapaian yang sudah aku dapatkan. Apa yang harus aku lakukan untuk merayakan sisa umur 22 tahunku? Apa yang harus aku lakukan untuk menyambut diriku yang berumur 23 tahun? Si gadis yang telah menjadi dewasa ini bahkan tidak yakin apakah ia benar-benar sudah dewasa.

27 Juni

Tanggal ini. Sebaiknya kuingat atau lupakan? Tapi, sedikit-sedikit aku sudah mulai lupa. Hanya ingin kejadian paling tidak disangka. Awalnya, kita dimana? Bahkan aku lupa. Pokoknya ada kamu. Lalu kamu berlari, mengajakku pergi. Aku, diajak? Pikirku dalam hati. Apakah kamu sudah tahu? Di tempat yang samar kuingat, kamu menanyakan sesuatu. Inginku jawab iya tetapi ragu. Tatapan tajammu seolah mengisyaratkan untuk katakan iya saja dengan yakin. Tapi, kenapa aku bersikap seperti ini?

Tuhan Menjawab Tanyaku Hari Ini

Aku terus bertanya kenapa aku sendirian. Kenapa aku kesepian. Kenapa aku mengarungi malam selewatnya saja. Aku terus bertanya kepada Tuhan. Sampai kapan? Banyak hal yang ingin kubagikan. Banyak hal yang hanya menumpuk di kepala. Tapi, pada siapa? Aku butuh teman bicara lainnya. Tuhan diam. Bahkan jawab yang kutunggu muncul di mimpi tidak hadir. Aku dibiarkan saja. Mungkin aku tidak cukup dekat dengannya, pikirku. Tapi, Tuhan membalas tanyaku hari ini. Ia hadirkan berbagai macam orang. Dengan berbagai topik pembicaraan. Tanyaku semua terjawab. Hal-hal yang menumpuk dan kusut di kepala mengalir sederas air di saluran air yang sumbatnya telah dibersihkan. Aku dapat banyak jawaban. Aku dapat banyak perbincangan berkualitas. Aku tidak sendirian hari ini dan itu cukup. Aku dapat jawaban penting hari ini, bahwa tidak harus setiap hari. Sesekali tapi berarti. Itu cukup. 

Diam Sebentar

Diam sebentar. Aku ingin cerita. Aku ingin berada di sini lebih lama. Ingin belajar lebih dalam. Ingin tahu lebih banyak. Tapi, aku tidak ingin terlibat terlalu jauh. Tidak ingin berpura-pura lebih lama. Tidak ingin membohongi diri sendiri semakin parah. Aku sudah lelah terus menerus mengikuti skenario yang diarahkan banyak orang. Tunggu. Diam sebentar. Ini hidupku bukan? Mengapa aku terus menerus disuruh berputar-putar tidak tahu kemana.

Mimpi Semalam

Aku senang akhirnya kita kembali bertemu di hari ke-24 sejak pertemuan kita yang terakhir dengan situasi yang entah bisa disebut lebih baik atau tidak. Kamu ada di sana, di sebuah rumah yang ramai orang karena sedang ada pesta atau perayaan yang aku juga tidak tahu untuk apa. Di samping rumah tersebut terdapat toko kelontong. Aku melihatmu yang sedang mengobrol santai di ruang tengah dari depan pintu masuk. Lama kutatap dari jauh, kakiku melangkah pelan menuju kamu. Aku ingin sekali terlibat percakapan denganmu. Belum sampai dekat denganmu, aku dipanggil oleh seseorang yang tidak jelas siapa. Seorang wanita yang menyuruhku membeli masker untuk semua orang di sana. "Ah, lagi-lagi gagal.", keluhku. Aku penasaran, kenapa selalu tidak bisa mendekat. Aku berjalan keluar. Menjauh dari sosokmu yang bersinar dengan terang. Meninggalkan harapan agar kamu mendekat karena aku tidak bisa menghampirimu. Toko kelontong di samping rumah kehabisan masker. Sempat kukira mereka menyembunyikan ...

Saat Semua Terasa Lebih Ringan

Saat semua terasa lebih ringan. Ku harap aku kembali bisa mendengar debur menghantam pemecah ombak atau batu karang. Ku harap aku kembali bisa menghirup udara di perkampungan. Ku harap aku kembali bisa menikmati kilauan bintang. Ku harap aku kembali bisa merasakan syahdunya mentari terbit di kejauhan. Akala, meski malam ini masih terasa sedikit berat, setidaknya aku masih punya dan belum kehilangan harapan. Meski hari-hari terasa sulit dan berat tanpa sebab yang jelas. Meski aku tidak yakin dengan apa yang terjadi di masa depan. Meski yang kuinginkan hanya menangis kencang-kencang, di pelukmu yang hangat dan menenangkan. Saat semua terasa lebih ringan. Ku harap aku bisa menulis lebih banyak kata dan mengungkapkan lebih banyak rasa. Ku harap aku bisa benar-benar berkata aku baik-baik saja tanpa harus berpura-pura. Ku harap keinginan untuk menangis ini mereda. Akala, sepertinya aku mengharapkan banyak hal tanpa usaha. Kenapa perasaan ini tidak kunjung membaik seperti sedia kala? Maaf kar...

Aku Ingin Menangis Malam Ini

Aku ingin menangis malam ini. Hatiku berteriak di tengah kegelapan dan kesunyian. Air mataku menolak tidak mau keluar. Padahal aku sungguh sangat ingin menangis malam ini. Kenapa tidak bisa? Aku ingin menangis dengan kencang sampai sesenggukan hingga lelah dan terlelap. Aku ingin tidur malam ini. Bukan tangis ku yang keluar, tapi alam. Hujan mengetuk genting dan memecah kesunyian. Aku tidak suka karena datangnya tidak lama meski cukup deras. Itu belum cukup melegakan. Apa yang salah hingga air mataku tidak mau keluar? Mengapa tangis ku hanya sampai tenggorokan? Kenapa isi kepalaku tidak mau diam sebentar? Kenapa semua rasanya terlalu memberatkan?